Selasa, 18 September 2018

Pantun "MUDA-MUDI' Oleh Riri Sawgio



PANTUN MUDA-MUDI
Karya : Riri Sawgio


Aku rindu sebuah cerita.
Cerita indah di masa muda.
Aku jatuh karena cinta.
Cinta menyesak di dalam dada.

Pagi ini hari yang cerah.
Tepi kampung di inderapura.
Sedang tidur kanda gelisah.
Gelisahnya bukan pura-pura.

Air haji bersawah luas.
Inderapura berpasar ramai.
Orang berharap cinta berbalas.
Aku berharap cinta bersemai.

Kacang panjang rasa berulam.
Di ulam enak di pagi hari.
Gelisah rindu gundah di dalam.
Dalam tersedu di jantung hati.

Makan kacang sembarang kacang.
Kacang panjang dari silaut.
Abang datang tak sembarang datang.
Datang dan pergi untuk menjemput.



Sungai Sirah Air Haji - Pesisir Selatan, 17 Maret 2017 M.
(Jum'at, 22:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Puisi "PERKAWINAN" Oleh Jalaludin Rumi



PERKAWINAN
Karya : Jalaludin Rumi


Betapa bahagia kita saat duduk di istana, kau dan aku.
Dua sosok dan dua tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan senandung burung ‘kan menebarkan pesona.
Pada saat kita memasuki taman, kau dan aku.

Bintang-bintang nan beredar sengaja menatap kita lama-lama.
Bagi mereka kita ‘kan jadi bulan, kau dan aku.
Kau dan aku yang tak terpisahkan lagi, ‘kan menyatu dalam kenikmatan puncak.
Bercanda ria serta bebas dari percakapan dungu, kau dan aku.

Burung-burung yang terbang di langit ‘kan menatap iri.
Karena kita tertawa riang gembira, kau dan aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku duduk di sudut yang sama di sini.
Pada saat yang sama berada di irak dan khurasan, kau dan aku.



- Jalaludin Rumi -

Puisi "KAKU DAN KELIRU" Oleh Riri Sawgio



KAKU DAN KELIRU
Karya : Riri Sawgio


Aku keliru dengan pilihan.
Untuk masa depan.
Ketika pemimpin patri mengucapkan janji.
Aku hanya mengangguk di sudut hening sepi.
Berharap suatu cahaya suci.
Menyapaku dengan lembut dan penuh kasih.
Mengatakan, inilah jalan bakti.

Orasi menghannyutkan jiwa.
Bingkisan beralamat menyesatkanku.
Titipan pagi telah mengikatku.
Membawaku ke lembah kehancuran.

Aku keliru dengan pilihan.
Aku keliru dalam penentuan.
Aku terobsesi dengan anjungan.
Pada akhirnya, melemparku di tembok kehinaan.
Apakah ini adalah awal dari kehancuran.?
Tidak tidak tidak.

Aku telah menyiapkan barisan di pagi hari,
Menantang gelombang pasang bumi pertiwi.
Karena aku adalah generasi agamawi.

Aku berbaris dalam satu barisan.
Aku berkumpul dalam suatu perkumpulan.
Dan aku menunggu dalam antrian perjalanan.
Hanya untuk kebaikan,
Kebaikan kita di masa depan.
Ayo generasi…
Demokrasi bukan janji.



Air Haji – Pesisir Selatan, 06 Desember 2015 M.
(Minggu, 13:30 WIB)

- Riri Sawgio -

Puisi "SELINTAS KESAN" Oleh HB Jassin



SELINTAS KESAN
Karya : H. B. Jassin


Genderang berderam-deram.
Sepatu berderap-derap.
Terompet meteret-tet-tet.
Sorak manusia riuh gempita.

Lihat mereka tegap dan gagah.
Arab, India, Tionghoa, dan Indonesia.
Berbaris rapat teguh bersatu.
Satu tujuan : Asia Raya!

Menderu melintas mesin udara.
Tamsil pelindung yang maha kuasa.
Atas rakyat yang berjuta-juta.

Seluruh asia bangun berbangkit.
Melepaskan belenggu perbudakan barat.
Menuju sinaran matahari terbit.



- H. B. Jassin -

Kamis, 13 September 2018

Puisi "TANAH INDONESIA' Oleh Riri Sawgio


TANAH INDONESIA
Karya : Riri Sawgio


Sinaran surya memakan embun pagi.
Murai-murai berkicau.
Tajuk pepohonan merekah gembira.

Mahkota mekar!.
Arloji ketenteraman telah menunggu.

Jayalah negeriku...
Lestarilah hutanku...
Aku berjanji menjadi abdimu.
Terima kasih negeri.
Terima kasih pahlawanku.
Aku cinta tanah Indonesia.



Pasir Sebelah - Padang, 05 September 2014 M.

- Riri Sawgio -

Rabu, 12 September 2018

Puisi "DIPONEGORO" Oleh Chairil Anwar



DIPONEGORO
Karya : Chairil Anwar


Di masa pembangunan ini.
Tuan hidup kembali.
Dan bara kagum menjadi api.
Di depan sekali tuan menanti.
Tak gentar lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri.
Berselempang semangat yang tak bisa mati.



- Chairil Anwar -

Senin, 10 September 2018

Puisi "KESUNYIAN" Oleh Riri Sawgio


KESUNYIAN
Karya : Riri Sawgio


Waktu terus berjalan.
Hari berganti hari.
Siang berbilang malam.
Sinar bulan berganti teriknya mentari.

Kesunyian...
Seakan menjadi raja kehidupan.
Tak ada keriuhan.
Tak ada kegembiraan.
Tak ada nada-nada kesenangan.
Yang ada hanya permaisuri kesunyian.



Pasir Sebelah – Padang, 12 Mei 2015 M.
(Selasa, 14:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Minggu, 09 September 2018

Puisi "KETIKA MENDENGAR TANGIS" Oleh Piek Ardijanto Soeprijadi


KETIKA MENDENGAR TANGIS
Karya : Piek Ardijanto Soeprijadi

Kau dengarkah tangis bocah itu sejak tadi.
Suaranya menebari desa sunyi.
Merambati bibir-bibir air sepi.
Mungkin ibunya ke pasar kota belum kembali.

Ajaklah kemari kita bawa nembang gambang seruling.
Di tepi rawa pening begini hening.
Sementara dari dangau kita menghalau gelatik dan pipit peking.
Yang mau neba merusak bulir-bulir padi mulai menguning.

Jiwanya kan terayun tembang kita.
Raganya kan terselimuti udara begini segarnya.
Pasti sebentar saja dia pulas di sini.
Meski jarum-jarum mentari lepas menusuki kulit bumi.

Biarkan dia mendengkur tetap di pangkuanmu.
Sementara kita terus berlagu.
Barangkali dia kan mekarkan mimpinya yang indah.
Tentang dunianya yang sumringah.



- Piek Ardijanto Soeprijadi -

Puisi "DI BALIK PEGUNUNGAN" Oleh Riri Sawgio



DI BALIK PEGUNUNGAN
Karya : Riri Sawgio


Ribuan kilometer dari pemukiman.
Tepatnya di balik pegunungan.
Ada lembah kehidupan.
Begitu tenteram akan kedamaian.
Menjunjung tinggi nilai kearifan.
Selalu mengutamakan persaudaraan.

Untuk mencapai kemakmuran.
Sakit satu, seribu membahu.
Satu yang kelaparan, semua merasakan.

Adat istiadat dan kebiasaan.
Menjadi norma keadilan.

Jangan usik dia...
Jangan ganggu dia.
Dia sama dengan kita.
Kita pun sama dengan dia.

Hak warga negara.
Sama-sama kita punya.
Kita adalah saudara.
Kita satu raga, kita satu jiwa.
Kita satu bangsa, dan satu negara.
Sekali lagi jangan coba-coba untuk sakiti dia.



Pasir Sebelah – Padang, 31 Mei 2015 M.
(Minggu, 02:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Senin, 03 September 2018

Puisi "SAJAK PUTIH" Oleh Supardi Djoko Darmono



SAJAK PUTIH
Karya : Supardi Djoko Darmono


Beribu saat dalam kenangan.
Surut perlahan.
Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh.
Sewaktu detik pun jatuh.

Kita dengar bumi yang tua dalam setia.
Kasih tanpa suara.
Sewaktu bayang-bayang kita memanjang.
Mengabur batas ruang.

Kita pun bisa tersekat dalam pesona.
Sewaktu ia pun memanggil-manggil.
Sewaktu kata membuat kita begitu terpencil.
Di luar cuaca.



- Supardi Djoko Darmono -

Puisi "SAJAK RINDU" Oleh Riri Sawgio


SAJAK RINDU
Karya : Riri Sawgio


Hai cinta…
Apakabarmu di balik malam.
Masih bersisakah rindu itu.?

Oh tidak, lupakan percakapan dungu.
Andai rasa itu mengerti.
Aku bawa engkau terbang dan pergi.
Ketika mendengar tangismu.
Rasa itu di kebiri sendiri.

Jalan buntu…
Menangisi rindu yang di tipu.
Sungguh cintaku bukan guyonan.
Siang terbayang-bayang.
Malam larut dalam mimpi.

Oh tidak, lupakan percakapan dungu.
Aku bawa engkau terbang dan pergi.
Di balik malam kita beradu cumbu.
Dalam tangis perjuangan.
Dan cinta itu akan tetap bersinar.
Layaknya rembulan di pagi hari.

Kita bersatu padu untuk menyatu.
Dalam kelambu.
Kita terbebas dari percakapan dungu.
Akhir tahun 2019.
Kita berjumpa di pusat kota.
Bumi Indonesia.



Pasir Sebelah – Padang, 03 September 2018 M.
(Senin, 22:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Pantun "ANAK MUDA" Oleh Riri Sawgio



PANTUN ANAK MUDA
Karya : Riri Sawgio


Anak muda bercerita masa.
Masa ketika dia tua.
Adik manis penari sasa.
Kalau boleh, minta nomornya.

Anak china beli pepaya.
Beli pepaya di inderapura.
Sedang marah adinda tertawa.
Melihat kanda temui ortunya.

Adik-adik bermain gundu.
Gundunya hilang di tepi sawah.
Awalnya cuma berasa rindu.
Lama-lama jadi gelisah.

Api-api unggunan kandis.
Di bakarnya malam minggu.
Makin di pandang makin manis.
Di labuh hati terbuka pintu.

Anak ayam mengekas rumput.
Rumput ranting di bilang-bilang.
Biarpun adik berbadan gendut.
Kasih abang terdorong sayang.

Galau hati berasa rindu.
Rindu nak kirim ke siapa.
Hati riang tersedu-sedu.
Dapat berita adik janda.

Kalau pergi mencari cinta.
Jangan di bilang kepada saya.
Saya sudah banyak kecewa.
Kecewa adik sudah menjanda.

Makan hati karena cinta.
Cinta di buang ke air haji.
Pergi menjauh dikau adinda.
Jangan di ganggu diri ini.

Awal bermula berjejak salam.
Pukul satu suatu malam.
Gundah hati terlanjur kalam.
Mati rasa cinta di dalam.

Aku ragu padamu tuhan.
Ragu tentang percintaan.
Oh tuhan tolong jauhkan.
Misteri cinta dalam pergerakan.

Anak muda banyak bertanya.
Kenapa pelangi indah warnanya.
Aku tidak percaya cinta.
Cinta tumbuh sendirinya.



Sungai Sirah Air Haji - Pesisir Selatan, 17 Maret 2017 M.
(Jum'at, 15:30 WIB)

- Riri Sawgio -

Puisi "RONA MERDEKA" Oleh Riri Sawgio

RONA MERDEKA Karya : Riri Sawgio Tutup usia. Senyaring-nyaringnya. Sorak anak manusia gegap gempita. Pribumi arab tionghoa...