Kamis, 29 November 2018

Puisi "RONA MERDEKA" Oleh Riri Sawgio



RONA MERDEKA
Karya : Riri Sawgio


Tutup usia.
Senyaring-nyaringnya.
Sorak anak manusia gegap gempita.
Pribumi arab tionghoa dan belanda.
Sedikit sekali mereka hidup.

Dari pulau emas berhutan rimba.
Berbondong-bondong datang kaum savanna.
Sambil menghitung gurun pasir.
Kapitalisme dan kolonialisme.
Sama-sama berdarah dingin.

Semoga petuah tetua itu masih bersisa.
Tidak berkalang rotan manau.
Malahan tertidur di tumpukan tebu.
Seperti anak air memancar terus.
Bersatu padu dalam kebenaran dan keberanian.






Padangpanjang - Sumatera Barat, 29 November 2018 M.
(Kamis, 17:30 WIB)


- Riri Sawgio -

Rabu, 28 November 2018

Puisi "TULISAN RASA" Oleh Riri Sawgio



TULISAN RASA
Karya : Riri Sawgio


Aku masih di sini...
Seperti aku itu yang dulu.
Meminta cinta.
Terasa begitu dalam kelamnya.
Sehingga engkau ada.

Meski berubah rona.
Jauh-jauh hari rasa itu di bina
Semakin dalam lagi.

Tidak akan ada yang menggoda.
Kecantikan wanita hanya siang saja.
Mana saja yang engku suka.
Mulai dari dulu.
Kita sama-sama berdo'a.

Hidup bahagia bukan soal cinta.
Mungkin dikau lupa.
Rasa pasti di jalurnya jua.

Jangan menipuku kilah.
Kamu tidak akan mampu dustai dosa.
Rasa itu kita yang punya.
Lebih baik kita belajar memahami.
Malam itu lebih menakutkan.



Pasir Sebelah - Padang 15 Maret 2016 M.
(Selasa, 02:05 WIB)

- Riri Sawgio -

Rabu, 14 November 2018

Puisi "JUJUR" Oleh Riri Sawgio



JUJUR
Karya : Riri Sawgio


Cahaya surya mulai hilang.
Bintang bermunculan.

Ketika keheningan merajai hidup.
Saat itu ada kesadaran.
Ada rindu yang menipu.

Jujur saja.
Kita punya pilihan.
Aku mencintaimu atas alasan.
Perkara hati belakangan.



Pasir Kandang - Padang, 17 April 2015 M.
(Jum’at, 00:33 WIB)

- Riri Sawgio -

Minggu, 11 November 2018

PESAN-PESAN UNTUK SAHABAT (Oleh : Riri Sawgio)



PESAN-PESAN UNTUK SAHABAT
Karya : Riri Sawgio


Sahabat…
Bagaimana kabarmu di sana?.
Aku harap engkau baik-baik saja.
Tentu saja begitu sekiraku.
Sudah lama kita tidak berkabar.
Bercengkerama canda mengadu gagasan.
Sungguh aku rindu itu.
Dan kita sama-sama menaruh rindu.

Seperti ombak di pantai.
Dia tidak pernah lelah mengingatkan kita.
Setiap detik dia selalu bergurau dengan pasir.
Tidak ada kata jerah dan lelah dalam setiap perjuangan.
Meski angin telah mengira ombak itu gila.
Awan-awan pun ikut memberi cemooh.

Tapi tidakkah engkau tahu?.
Setiap malam ketika angin berpindah haluan.
Gerombolan awan tertidur dalam lelapnya malam.
Para nelayan pergi mencari kehidupan.
Sesaat saja datang ombak dan gelombang pasang.
Masih saja mereka bersenda gurau dengan pasir yang kedinginan.
Sehingga matahari menyadarkan kita.
Kalau-kalau hidup ini begitu tua dan hina.

Begitu pula dengan bintang-bintang di langit.
Dia tidak akan mau dan mampu mengkhianati bulan.
Meskipun secara sembunyi-sembunyi.
Bintang-gemintang akan tetap temani malam.
Dimana ia hanya ingin melihat kekasihnya selalu bersinar.

Di balik malam selalu ada burung pungguk yang merayu-rayu.
Kita tidak tau apakah ada nasib bagi mereka bersatu.
Pungguk tidak pernah ragu-ragu menunggu.
Neraka tidak rela melihat mereka.
Bulatkan tekad dan tetapkan keyakinan yang satu.
Berbuat bukan untuk di lihat.
Melainkan hanya untuk memperjuangkan cita-cita.

Masih ingatkah engkau sahabat?.
Pada waktu petang itu kita berjanji.
Jika kita pergi berlawan arah.
Kita harus yakin kalau jalan pulang itu hanya satu.
Hidup bukanlah seperti pasir di pantai.
Dalam ketenangan tidak ada yang di pertuan.
Dan kita tidaklah hidup seumpa pungguk dan bulan.
Saling memperebutkan tanpa kepastian.
Kita adalah sepasang bola mata.
Terus menatap kejamnya dunia manusia.

Sahabat, engkau adalah temanku di setiap pojok mata.
Manusia mengira kita itu satu.
Suara kita selalu menyatu ketika berseru.
Kisah kita tidak seperti Engku Kasim yang memutuskan pertalian.
Cerita kita bukanlah romannya Samsulbahri yang bunuh diri.
Perjuangan kita tidaklah seperti Untung Surapati yang bersembunyi.
Kita berteriak dengan suara lantang tentang kebenaran.
Tuhan akan memelihara imbalan untuk suara makhluknya.

Kebenaran harus di sampaikan.
Keadilan harus benar-benar kita perjuangkan.
Perjuangan adalah jalan hidup.
Kematian itu takdir.
Sementara kebakhtian akan tetap abadi.
Hidup kita tidak seperti kura-kura bersembunyi.
Merambat melalui sunyinya bunyi.
Meskipun langit itu akan runtuh.
Dan bumi ini pecah menjadi berkeping-keping.
Kebenaran tidak bisa di putarbalikan.

Kita harus melihat dunia lebih luas lagi kawan.
Ketika dunia ini belum mengenal tulis baca.
Manusia pastinya memakai hukum rimba.
Kita sudah merdeka dalam sebuah negara.
Dunia ini telah berdaulat untuk keadilan.
Manusia bebas dengan haknya yang merdeka.

Tuhan menjadikan manusia bukan sebagai budak.
Setiap manusia itu adalah pemimpin terutama untuk dirinya.
Kita tidak mau mengulang-ngulang kisah cinta Qa’is dan Laila.
Mereka hidup bersama cinta namun buta dengan dunia.
Tidakkah engkau mendengar suara Tan Malaka di alam kubur sana?.
Terdengarkah olehmu gurauan Soe Hok Gie yang memilih mati.?
Kebenaran tidak bisa di nafikan jadi kebohongan.

Begitu nyaring tangisan kartini saat jadi pingitan.
Masih jelas terbayang senyum juang Dewi Sartika mencerdaskan manusia.
Belum lagi kita sebut ibu Rohanna kecil yang menjadi guru.
Lihatlah olehmu pedang Cut Nyak Din dan Sitti Manggopoh membunuh musuh.
Kita akan malu dan kaku.
Dunia ini hanya kita sibukan dengan isi perut dan kedzaliman.
Terlalu kejam kita jadi manusia.
Hewan pun masih berfikir tentang hari esok.
Lalu kita menafikan kodrat kita sebagai pemimpin.
Begitu hina anak-anak manusia yang lupa zatnya.

Sejengkal tanah pun akan menuntut ketidak-adilan itu.
Melalui banjir bandang dan kekeringan.
Kita melihat tuntutan bumi kepada manusia.
Masih mampukah kita berdusta terhadap tuhan?.
Sungguh kita tidak akan mampu membohongi daun yang berguguran.

Metafisika adalah ilmu buatan manusia.
Terkadang kita sering bergarau keyakinan.
Seolah-olah kita mendapat restu dari tuhan.
Peradaban itu hidup tidak berkemaluan.
Manusia hinalah yang tidak bisa berfilsafat.
Dan kita adalah manusia-manusia yang mampu berestetika.
Orang berkata ketika kita berestetika kita malah tidak beretika.
Sungguh dungu mereka-mereka yang mengabdi pada kebodohan.
Dimana ketika mereka di bodohi oleh orang-orang yang bodoh.

Sekarang kita akan berbicara tentang tanggungjawab.
Anak-anak manusia di kemudian hari nanti.
Kita akan melihat pertunjukan yang tidak berilmu.
Harusnya kita tidak pulang terlalu petang.
Sebab ketika kita pulang kandang nasib kita sudah terhalang.
Cukup nasib kita yang menahan rindu.
Suara-suara berikutnya kita harap lebih bermutu.
Kita akan menumpang dalam olengnya muatan penyeberangan.
Dan sungguh kita akan berbakti di jalan pencerdasan.

Kawan…
Seorang sahabat tidak akan pernah menggunting dalam lipatan.
Setiap suara kebenaran telah kita perjuangkan.
Tuhan selalu punya keinginan.
Kita hidup adalah untuk menghidupi yang hidup.
Sejatinya tugas kita selain menghamba adalah bersaudara.
Dalam akal pikir logika ilmu metafisika.
Inmaterial itu ilustrasi.
Kita tidak berbicara tentang keajaiban melainkan pembebasan.
Penjajahan penjarahan dan perbudakan itu harus di hapuskan.

Setiap manusia itu merdeka atas haknya.
Dan kita akan hidup dan tetap hidup.
Bersama mereka-mereka yang haus ilmu dan gemar cita-cita.
Kesucian jiwa itu kita gilir dengan rata.
Pada setiap peradaban anak-anak manusia yang merdeka.
Suatu saat suara itu akan terdengar jelas di atas tanah.
Maka itu artinya aku kamu dan mereka.
Kembalilah hidup merdekanya manusia.



Pasir Sebelah – Padang, 11 November 2018 M.
(Minggu, 20:30 WIB)

- Riri Sawgio -

Sabtu, 10 November 2018

MEMETIK EMPATI PEMUDA DALAM KEMERDEKAN (Ditulis : Riri Sawgio)



MEMETIK EMPATI PEMUDA DALAM MEMPERJUANGKAN DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Ditulis : Riri Sawgio


Si puti si retno nilam.
Datuk gadang basa bertuah.
Belum di hadang sudah tersilam.
Setelah merdeka berkalang tanah.

Adat raja turun-temurun.
Adat puti sudut-bersudut.
Jiwa kapital berduyun-duyun.
Semangat akal sujud berlutut.

Penjahit penyulam kertas.
Kertas terlipat penjahit patah.
Merdeka tidak berbalas.
Untung nasib tidak terjajah.

“Kelahiran suatu pikiran, sering menyamai kelahiran seorang anak, ia di dahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya” kira-kira seperti itulah sepenggal buah karya atau kata-kata seorang Tan Malaka yang di persembahkannya untuk anak-anak manusia di bekas bumi nusantara ini. Kata-kata bapak republik Indonesia ini (nama penghormatan yang di berikan oleh Mohammad Yamin kepada Tan Malaka dalam tulisannya “TAN MALAKA BAPAK REPUBLIK INDONESIA”) memberikan sebuah dasar berfikir bagi kita semua selaku anak muda dan generasi penerus harapan bangsa dalam merenungkan arti dari terbentuk dan lahirnya bangsa Indonesia.

Sepenggal kata-kata dari seorang Tan Malaka tadi, sebagai orang yang sangat berjasa dalam lahirnya Indonesia, tentu itu adalah sebuah kebenaran yang ingin beliau sampaikan kepada dunia, terutama generasi muda yang haus akan ilmu dan gemar dengan cita-cita. Bagaimana tidak, jauh sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia di proklamirkan oleh para proklamator bangsa ini, anak-anak muda pada masa dahulunya telah jauh berbuat banyak untuk mimpi memiliki sebuah negara yang benar-benar merdeka dan berdaulat.

Bung Karno dalam perjuangan revolusinya berkata “Beri aku seribu orang tua, niscaya aku cabut semeru dari akarnya. Tapi beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”, artinya di sana harapan besar dari perubahan dan pembangunan dalam suatu bangsa yang merdeka itu harus ada campur tangan dari anak-anak muda. Seperti di zaman pra-kemerdekaan, yang peka dan yang sangat gigih serta perduli dengan kondisi dan perjuangan sosial, politik, ekonomi pada waktu itu adalah para pemuda. Sehingga bisa di katakan tanpa pemuda Indonesia ini tidak merdeka, bahkan jika tidak ada pemuda Indonesia tidak akan pernah ada.

Indonesia ada tidaklah lahir secara seketika saja. Konsep-konsep Indonesia sudah ada jauh sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Semua itu tidak bisa di dustakan, tanpa peran-peran penting dari para pemuda waktu itu, tidak mengecualikan dan menafikan keberadaan golongan tua dalam membentuk dan memperjuangkan kemerdekaan serta pergolakan nasional pada waktu itu. Lahirnya Indonesia melewati rentetan proses yang sangat panjang dan waktu yang begitu lama.

“Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita, Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran - Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan untuk di kenal namanya, melainkan hanya semata-mata membela cita-cita.” Begitulah ucapan dan kata-kata Bung Hatta yang berulang kali beliau ucapkan ketika berjumpa dan bercengkerama dengan para pemuda penerus perjuangan bangsa di kemudian hari.

Setelah Indonesia merdeka tantangan yang lebih besar akan datang kembali di setiap detik waktu, untuk menggerogoti setiap sendi kehidupan anak bangsa. Jika pemuda lemah dalam wawasan dan intelek keilmuannya, maka Indonesia akan hanyut dan tenggelam ke dasar lautan yang sangat dalam dari percaturan persaingan global. Dulu anak muda tampil dalam kancah perjuangan nasional bukan di minta-minta atau di iming-imingi dengan imbalan apapun, tapi pemuda tampil memperlihatkan batang lehernya adalah ketika rakyat menjerit dan negara memanggil membutuhkan.

Tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945 masehi, merupakan sebuah tonggak sejarah dalam peradaban umat manusia di dunia. Selama kurang lebih berabad-abad lamanya belahan bumi yang terdiri dari beribu pulau dan lautan samudera yang amat kaya di sepanjang sumbu khatulistiwa asia raya benar-benar berdaulat dan merdeka. Perjuangan yang jauh-jauh hari di gagas oleh anak-anak muda di seluruh pelosok Bumi Nusantara akhirnya terwujud. Seperti kita ketahui bersama, inisiatif dan cikal bakal lahirnya sebuah negara Indonesia telah di gagas lebih kurang tujuh belas tahun sebelum kemerdekaan Indonesia di proklamirkan.

Bulan Oktober tanggal 28 tahun 1928 masehi adalah tonggak sejarah bagi anak bangsa Indonesia. Pada tahun itulah para pemuda di seluruh nusantara ini bersepakat untuk berikrarkan janji hidup setia sepenanggungan dalam satu tanah air dan bersatu dalam satu bangsa serta bahasa persatuan dengan bingkai “INDONESIA”. Artinya secara cita-cita dan pengakuan ke dalam, Indonesia telah ada sejak tahun 1928.

Kemudian jika kita runut lagi ke belakang, cita-cita untuk memiliki sebuah negara yang berdaulat tadi ternyata telah di semai dan terpupuk subur dalam sanubari anak-anak muda sejak tahun-tahun sebelumnya. Yaitu dengan sebuah gagasan dari seorang pemuda terpelajar tentang konsep  negara Indonesia yang benar-benar merdeka, dalam gagasan idenya “NAAR DE REPUBLIEK INDONESIA/MENUJU REPUBLIK INDONESIA (Tahun 1925)” oleh Tan Malaka.

Dalam sejarah panjang bangsa Indonesia terangkum jelas, ketika matahari pagi mulai bisa dan berani menyinari dengan semangat optimis kulit kumuh bangsa Indonesia untuk pertama kalinya. Para petani dan nelayan beserta para pemuda pelajar yang berbaris rapi di halaman sebuah rumah pribadi yang di huni oleh seorang tokoh pemuda terkenal di kalangan masyarakat luas dengan suara lantang pidatonya.

Tepatnya di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta menjadi saksi bisu Kemerdekaan Indonesia, betapa tidak di sanalah ikrar suci bangsa Indonesia di sampaikan kepada dunia luas tentang kemerdekaan negara Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia di bacakan oleh Bung Karno dan di dampingi oleh Bung Hatta pada hari Jum’at saat matahari tengah naik tanggal 17 Agustus tahun 1945 yang bertempat di halaman depan rumah kediaman Bung Karno sendiri, dan semua prosesinya berjalan dengan begitu khidmat dan sesuai rencana.

Sudah lebih dari setengah abad lamanya bumi Indonesia ini merdeka dari cengkeraman tangan penjajah. Banyak pekerjaan rumah dan tugas-tugas kedaulatan yang telah di laksanakan oleh para pemangku kebijakan di negeri ini tanpa menafikan kekhilafannya sebagai manusia yang fana. Tantangan dan ancaman barang tentu sudah siap datang dan menanti untuk menggerogoti setiap sendi kehidupan anak bangsa.

Tiga bulan setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannnya, ancaman yang sangat serius datang dari bangsa lain yang ingin menjajah bumi Indonesia untuk ke sekian kalinya. Lalu kemudian apakah para pemuda pada waktu itu hanya berdiam diri atau pergi untuk menyelamatkan harta pribadi? Tidak! Pemuda waktu itu dengan lantang menolak segala bentuk penjajahan di atas tanah airnya. Semboyan mereka tetap satu “MERDEKA ATAU MATI” kalau tidak merdeka berarti mati.

Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup jadi manusia hina yang di jajah. Ucapan dari kata-kata Tan Malaka akhirnya berada di depan mata anak muda Indonesia “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya” melalui barisan-barisan pelajar dan barisan pemuda yang selalu siap siaga dan setia kepada negaranya. Ketika di butuhkan para pemuda siap selalu untuk korbankan tenaga, pikiran bahkan raga dan nyawa sekalipun demi mempertahankan kemerdekan bangsa Indonesia.

Pada tangggal 10 November 1945, untuk pertama kalinya terjadi kontak fisik pejuang kemerdekaan yang sebagian besar adalah pemuda dan pelajar yang telah bersiap diri bahkan mati untuk membela hak dan tanah airnya. Sekitar jam 10.00 WIB lebih kurang di hari yang sama pecahlah perang antara pejuang Indonesia dengan komplotan serdadu Penjajah (Inggris dan sekutunya). Ribuan nyawa manusia melayang untuk mempertahankan haknya, dan begitu pula di pihak serdadau musuh banyak yang mati.

Kemudian apakah para pejuang kita waktu itu bersurut langkah untuk berjuang? Tidak! “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat menjadikan secarik kain putih menjadi MERAH PUTIH, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga” Itulah jawaban seorang pemuda pejuang bangsa yang suaranya berapi-api dan berulangkali di putar dalam siaran radio pemberontakan nasional saat perang di bulan November 1945 berlangsung dengan sengit.

Peristiwa perjuangan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah kelam bangsa Indonesia dalam semangatnya untuk mewujudkan dan mempertahankan kedaulatan serta kemandirian bangsanya benar-benar di uji. Untuk mengenang jasa para pahlawan yang ikut berjuang secara moril dan materil baik berperang secara langsung dengan senjata atau tidak di seluruh pelosok negeri ini, maka pada tanggal 10 November di peringati sebagai HARI PAHLAWAN.

Hampir mendekati satu abad lamanya negara Indonesia lahir dan merdeka. Resepsi dan ritual rutin kenegaraan di laksanakan negeri ini dengan begitu kemewahan dan kemegahan. Entah untuk apa itu semua, yang pasti anak-anak muda di jaman digital sekarang sangat menggemari itu, bukan menggemari perjuangan pemuda di zaman dahulu, namun hal-hal lain yang kurang bermutu. Mulai dari pesta ulang tahun sampai jamuan makan malam mingguan terasa lebih nyaman pada kalangan anak muda sekarang di banding menulis dan mengasah pikiran.

Pertanyaan besar bagi kita semua selaku anak muda zaman now, mau di bawa kemana Indonesia setelah bangsa kita di prediksi akan memiliki jumlah anak muda yang usia produktifnya begitu tinggi dan banyak? Apakah kita hanya ingin bermimpi tentang hidup mewah dengan harta yang berlimpah ruah? Tentu kita harus mampu menjawab pertanyaan itu untuk peradaban dan tanggungjawab kita kepada dunia.

Terlalu jauh untuk di bahas konsep Indonesia di zaman sekarang kepada anak-anak muda, hanya segelintir orang saja yang mampu mengenal jati dirinya apalagi jati diri bangsanya. Bahkan kemirisan itu terjadi di kalangan anak muda terpelajar sendiri, terutama tentang cakrawala pemikiran pergerakan untuk membentuk dan memajukan peradaban di Indonesia. Sehingga dengan mudah sejarah bangsa ini bisa di pelintirkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Begitu lantang suara Bung Karna kepada para pemuda ketika beliau mulai menyongsong matahari tenggelamnya, apa kata beliau “JAS MERAH! JAS MERAH!! JAS MERAH!!!” Jas Merah yang di maksud oleh Bung Karno melalui teriakan pidatonya yang berapi-api kepada para pemuda, bukan jas berwarna merah yang di impor dari China. Melainkan sebuah jargon dan semangat juang untuk pemuda, agar Jangan pernah sesekali melupakan sejarah.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Jika kita tidak mampu menghargai jasa para pahlawan dalam bentuk ritual kegiatan, cukup kita mengetahui dan meneladani sikap optimisme dan pantang menyerah dari para pahlawan kita. Mereka para pahlawan yang berjuang, bukan meminta untuk di kenang ataupun untuk di sebut-sebut namanya, harapan mereka hanya satu dan cita-cita mereka tidak lebih dari itu, yaitu “Anak cucu mereka harus bisa hidup merasakan kebahagiaan dan kemakmuran”.

SELAMAT HARI PAHLAWAN TEMAN!!!
Dilain waktu kita akan bercerita tentang Indonesia dalam mimpi yang berbeda-beda.



Pasir Sebelah - Padang, 10 November 2018 M.
(Sabtu, 03:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Puisi "SAJAK TENTANG SEORANG PEREMPUAN" Oleh Riri Sawgio



TERBIT DAN TENGGELAM
(Sajak Tentang Seorang Perempuan)
Karya : Riri Sawgio


Sejak bermula bertegur sapa.
Bertegur salam kita lanjutkan.
Sungguh manusia makhluk yang fana.
Janji hati bukan suratan.

Bercerita adik waktu pagi.
Kita bertemu di waktu petang.
Rasa itu datang dan pergi.
Mengetuk hati seorang lajang.

Petang itu lebat hujannya.
Kita tertawa bersama-sama.
Apalah pinta apakan daya.
Nasib sudah memisakan kita.

Pulau sabang ramai orangnya.
Pulau nias amatlah luas.
Manusia di tagih pada janjinya.
Budi baik patut di balas.

Adat melayu begitu lembut.
Lembut lakunya si gadis minang.
Pinta dan do’a boleh di rajut.
Sebutlah mimpi dalam sembahyang.

Danau toba berdasar gunung.
Ada pulau di tengah-tengah.
Adat itu sifat mengungkung.
Dosa-dosa patut di cegah.

Pasaman terbagi dua.
Simpang empat lubuk sikaping.
Hati muda suka mendua.
Bisa hancur berkeping-keping.

Bangkinang kotanya bersih.
Padangpanjang kotanya indah.
Jangan hidup seperti bilih.
Berbiak tidak bertambah.

Sutan Palembang jatuh hati.
Mengukir cerita siguntur muda.
Tidak mudah menaruh hati.
Butuh waktu dan tenaga.

Padang kotanya panas.
Painan berangin kencang.
Manusia itu bersikap ganas.
Menahan nafsu mampu berperang.

Airhaji berpasar banyak.
Kambang negerinya luas.
Sedang tidur mata tersentak.
Teringat adik bersikap culas.

Tapan berhutan rimba.
Bengkulu berpantai panjang.
Sakit hati menyesak dada.
Mata terpejam adik terbayang.

Bekauheni pelabuhan kapal.
Palembang menyimpan sejarah.
Jika janji berasa janggal.
Mati kita berkalang tanah.

Indah cahayanya mentari pagi.
Masih berbekas saat tenggelam.
Duhai adik maafkan janji.
Kasih kita di pisahkan malam.




SAJAK TENTANG SEORANG PEREMPUAN


Perempuan…
Lakumu begitu lugu.
Dengar malu mata sayu.
Rindu engkau simpan begitu rapat.
Hati pun tidak sanggup untuk mendekat.

Kekasih…
Kejam rajanya cinta.
Kita di paksa memelihara rasa.
Padahal kita masih rindu belai gemulai.
Tidak dengan lilitan rantai-rantai.
Kita berdusta satu sama lain.
Rajutan mimpi itu kita jalin.

Dik…
Adakah rasa itu bersisa?.
Biar manusia tutup mata.
Kita tidak hanya berbicara masa depan.
Peradaban manusia harus di utamakan.
Tanggungjawab bukan persoalan cinta.
Lebih dari hajat hidup anak-anak manusia.
Hari petang kita sudah membayang.
Mimpi itu harus di bungkus rapi.

Kepiawaianmu tidak bisa di lukiskan.
Seperti perempuan-perempuan akhir zaman.
Fiksi tidak lagi mampu bernarasi.
Bercerita ria dalam mimpi halusinasi.
Daun ilalang ragu bersanding denganmu.
Sepasang mata bercakap begitu dungu.

Rasa itu memenjarakan kita.
Saling serang di bilik tetangga.
Kata-kata mana lagi yang kita dustai?.
Tidak satupun dari kita berniat melukai.
Setiap manusia itu merdeka dengan rasanya.
Hak azazi tetap kita bela dengan hukum agama.

Kita tidak mau berlama-lama dalam dosa.
Sakit bukan karena darah tapi oleh mata.
Pulihkan atau akan menambah korban.
Meski jalan itu kiri dan kanan.
Di balik bukit itu jurang.
Kita tidak akan menang.

Kekalahan kita adalah berjuang.
Kamu tidak akan mampu menahan pedang.
Dia bisa mengoyak ubun-ubun dari belakang.
Mari kita sama-sama pulang sebelum berkalang.
Kita hanya hidup di saat matahari naik.
Mati kita itu setiap detik.
Perjuangan cinta kita itu tidak berdelik.



Pasir Sebelah - Padang, 11 November 2018 M.
(Minggu, 04:00 WIB)

- Riri Sawgio -

SURAT UCAPAN TERIMA KASIH SEORANG PRESIDEN MAHASISWA (Ditulis : Riri Sawgio)



SURAT UCAPAN TERIMA KASIH SEORANG PRESIDEN MAHASISWA UNTUK ALMAMATER YANG MEMBESARKANNYA
Ditulis : Riri Sawgio (Presiden Mahasiswa UMSB 2017/2018 M)


Assalamu'alaikum Wr Wb.
Panjang Umur Perjuangan!
HIDUP MAHASISWA!!! 

Patah tumbuh hilang berganti. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan semuanya, yang telah bersedia untuk selalu menemani saya berjuang di jalan pengabdian di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, khususnya di kelembagaan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UMSB 2017/2018 "Kabinet Solid Berkarya".

Pada dasarnya tujuan kita hidup sebagai manusia itu selain menghamba kepada tuhan, juga adalah untuk memanusiakan manusia lainnya. Itulah sepenggal kata-kata yang sering saya ucapkan saat di minta untuk berbagi ilmu dengan adik-adik yang akan melanjutkan perjuangan saya di kemudian hari.

Genap satu tahun berjalan mungkin lebih jika di hitung bulannya di dalam kelembagaan kepengurusan BEM KM UMSB 17/18 "Kabinet Solid Berkarya" sudah barang tentu banyak perjuangan dan pengabdian yang telah kita perbuat lakukan sebagai seorang manusia terpelajar, tanpa menutupi segala hal yang telah terjadi dan tidak pada posisinya yang mungkin bagi sebagian orang akan memuji.

Tapi saya sangat yakin sekali kalau kita semua telah berjuang semaksimal mungkin, baik secara moril maupun secara materil untuk membangun dan membawa UMSB ke arah yang lebih baik lagi.

Seorang demi seorang di antara kita telah memikirkan hidup jauh ke depannya, baik untuk masa depan bangsa, daerah bahkan keluarga sendiri. Satu persatu di antara kita telah menyelesaikan studi, yang saya sendiri entah kapan pula akan melangsungkan hajat itu. Tapi sekali lagi saya tetap yakin, kalau orang-orang hebat dan orang-orang besar itu tidaklah lahir secara seketika, tapi melewati proses yang sangat panjang dan banyak rintangan serta tantangan yang selalu menekan dan mereka harus mampu melewati itu. Mengubah tantangan menjadi peluang, dan menjadikan peluang itu sebagai jalan kabaktian.

Ketika saya berkata-kata dan menjadi seorang pembicara atau narasumber diskusi terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, juga sering terucap oleh saya kalau yang membuat kita itu sukses bukan terletak pada prestasi yang telah kita torehkan. Toh berbicara prestasi itu bukan hanya persoalan angka-angka sahaja. Tapi yang menjadikan kita itu sukses, hebat, dewasa, mandiri dan berdedikasi adalah proses, sekali lagi proses dan proses itu harus kita lewati jangan di hindari, kalau di hindari maka kita sendiri yang akan rugi.

Seorang pendiri republik ini pernah berkata "Terbentur terbentur terbentuk" itu adalah kata bapak republik Indonesia (Tan Malaka) orang kita, Minangkabau asli. Seorang mahasiswa juga dia, bahkan dalam cerita riwayat hidupnya beliau tidak sempat tamat kuliah atau selasai masa studinya seperti yang di pikirkan oleh banyak orang, tapi beliau di banggakan oleh peradaban manusia, di puja-puja oleh barat dan di sanjung-sanjung oleh timur. Jadi yang membuat kita itu menjadi orang yang berhasil adalah proses itu sendiri.

Dalam berproses itu kita akan di bentur-benturkan, sehingga kita bisa terbentuk menjadi sesuatu yang bisa bernilai dan bermanfaat bagi orang lain serta bisa menjadi jawaban atas semua tantangan dan problema kehidupan yang ada.

Bulan depan (Oktober 2018 M) adalah bulan bahagia bagi sebahagian teman-teman mahasiswa kita di kampus UMSB, di mana pada bulan tersebut teman-teman kita akan di dakwakan sebagai seorang sarjana. Mungkin kalau saya secara pribadi jauh-jauh hari memikirkan hal itu, pastinya pada saat sekarang ini saya sudah menjadi seorang sarjana muda dan menjadi menejer di sebuah perusahaan besar. Tapi saya tidak dan belum butuh itu, sebab tanggungjawab saya bukan hanya kepada masa depan saya dan orangtua sahaja, tapi juga untuk masa depan anak-anak manusia pada umumnya.

Tadi saya tidak mau menyebut kata wisuda karena saya masih yakin banyak di antara teman-teman kita yang belum bahkan tidak melewati proses yang saya sebut tadi sebagai seorang mahasiswa atau kaum intelektual sejatinya. Yang mana dalam mencari kita harus mencari lagi, meskipun kita gagal dalam hal menemukan. Ingat teman, gagal bukanlah suatu keberhasilan yang tertunda. Sangat sering saya menyebut itu, karena pada dasarnya kegagalan itu adalah sebuah proses bagi kita untuk mencapai suatu keberhasilan. Saya dan kita semua pasti tidak ada yang akan setuju kalau keberhasilannya itu di tunda-tunda oleh orang lain. Maka katakan kepada diri kita, jika kita gagal akan sesuatu hal pastikan itu adalah proses. Gagal mata kuliah itu proses, ulang lagi semester depan. Dan setiap detik dari proses itu akan ada hikmahnya.

Ketika pada awal saya di dakwa sebagai seorang presiden mahasiswa di kampus UMSB, saya dulu pernah membuat banyak orang gigit jari, bahkan sampai seluruh lapisan keluarga di rumah kita ini (UMSB). Waktu itu saya membuat tulisan yang judulnya lebih kurang seperti ini "MENELISIK KAMPUS UMSB SAMPAI KE BATU NISAN (Catatan Kecil Seorang Presiden Mahasiswa Terhadap Almamaternya)" dan tulisan itu berisi banyak kritik terstruktur dan rapi yang sifatnya sangat membangun sekali menurut hemat saya. Bahkan tidak hanya pihak akademik dan pimpinan yang grogi saat membacanya, mahasiswa pun ikut serta memaki-maki.

Kali ini saya akan membuat tulisan seperti ini supaya bisa di baca oleh penerus saya di kemudian hari dan saya ingin suatu saat nanti di lain waktu adik-adik saya bertanya bagaimana kisah saya di waktu pagi. Dan jiwa saya itu akan tetap hidup dan di gilir oleh peradaban setiap anak-anak manusia yang haus akan ilmu dan cita-cita. Saya juga ingin tuh suatu saat nanti di demo oleh Riri Sawgio kecil, seperti saya dulunya demo di depan istana negara atau depan gedung wakil rakyat. Mudah-mudahan itu terwujud amin. Saya ingin melihat Sawgio-sawgio lugu dan lucu seperti tidak punya masalah dan bermasalah, yang ngomongnya seenaknya saja sama pejabat pemerintah di depan forum-forum resmi dan teriak-teriak lagi.

Nah pada saat sekarang ini sebenarnya saya cuma ingin mengucapkan terima kasih kapada segenap kepengurusan saya yang mungkin telah banyak tiada dari semua kesibukan di kampus kita, sebab dunia kerja itu kejam sekali dan di sana itu kita akan menjadi ibarat seorang kuli atau pesuruh yang jika menolak atasan akan di keluarkan dari pekerjaan. Sekarang tidak banyak lagi pengurus kabinet saya yang aktif, karena sudah punya tanggungjawab lain untuk masa depannya. Tapi saya tetap mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka-mereka yang berjuang bukan hanya untuk diri mereka secara pribadi tapi juga untuk orang lain.

Hari ini (Jum’at, 21 September 2018 M) saya masih menyandang status mahasiswa aktif di UMSB dan entah sampai kapan status itu saya sandang, tapi saya juga ingin secepatnya beralih status. Bukan status belum kawin menjadi kawin, tapi status mahasiswa saya ke tingkat di atasnya (Strata-2), insyaallah kita sama-sama berdo’a untuk masa depan kita dan masa depan umat manusia yang lebih baik.

Kemudian dalam dari pada itu, saat sekarang ini saya masih menyandang gelar sebagai seorang presiden mahasiswa di UMSB yang insyaallah kalau tidak ada marah melintang, kalau pun ada yang melintang akan kita patahkan secara bersama-sama “Terbujur lalu, terbelintang patah” dan sekali lagi mudah-mudahan sesuai rencana. Satu bulan lagi tepatnya pada hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018 M, kita di UMSB khususnya di kelembagaan mahasiswa tertingginya akan memiliki nahkoda baru. Dan nahkoda lama sudah tahu arah, bukan wisuda tapi mengejar semester yang tertunda.

Sekalian ucapan terima kasih juga ingin saya sampaikan kepada segenap keluarga mahasiswa UMSB, baik yang aktif di organisasi kemahasiswaan dalam kampus ataupun organisasi kemahasiswaan di luar kampus dan di kepemudaan, terima kasih banyak untuk cerita perjuangannya.

Dan pesan terakhir saya kepada kawan-kawan mahasiswa dan adik-adik saya yang lain baik dari segi umur atau tingkatan perkuliahan, lewatilah proses menjadi mahasiswa itu dengan baik, dengan rasa penasaran ilmu dan dengan rasa cinta akan cita-cita. Inilah kata-kata seorang presiden mahasiswa, setiap kampus itu pasti punya dinamika dan semua kampus sudah pasti mempunyai masalah yang berbeda-beda pula. Jadikan setiap masalah yang menjumpai kita itu sebagai sekolah yang akan membuat kita akan menjadi sosok yang lebih dewasa dari pada umur yang kita punya.

Terakhir dari saya sebagai seorang presiden mahasiswa dan orang yang selalu haus akan ilmu dan rindu akan cita-cita, UMSB tidak bisa mengsukseskan masa depan dan cita-cita kalian. UMSB hanyalah satu tingkat anak tangga yang harus anda tempuh untuk melewati anak tangga berikutnya, UMSB hanya bisa menunjukan arah pergi, pulang dan melihat dunia lebih luas lagi. Kalau kita bercita-cita ingin menjadi seorang menejer perusahan, ingin menjadi seorang pegawai, tenaga ahli, kepala dinas, bupati, walikota, gubernur, atau bahkan seorang menteri dan lebih tinggi lagi dari itu sebagai seorang presiden di negeri ini, sungguh UMSB tidak bisa mewujudkan itu untuk anda-anda semua. Tapi anda-anda semualah yang akan mewujudkan itu untuk dan demi UMSB.

Ketika anda menjadi bagian dari UMSB, dan UMSB hadir dalam diri anda, pada saat itulah anda telah berikrar bahwa UMSB adalah salah satu tempat singgah bagi anda di waktu pulang nanti dan sebelum anda benar-benar berpulang.

Sampai saat ini kita semua bangga telah menjadi bagian dari UMSB.
Dan kita bangga menjadi bagian dalam bermuhammadiyah.



Pasir Sebelah - Padang 21 September 2018 M.
(Jum’at, 03:30 WIB)

- RIRI SAWGIO -
Presiden Mahasiswa UMSB 2017/2018 M.

Puisi "RONA MERDEKA" Oleh Riri Sawgio

RONA MERDEKA Karya : Riri Sawgio Tutup usia. Senyaring-nyaringnya. Sorak anak manusia gegap gempita. Pribumi arab tionghoa...