Minggu, 11 November 2018

PESAN-PESAN UNTUK SAHABAT (Oleh : Riri Sawgio)



PESAN-PESAN UNTUK SAHABAT
Karya : Riri Sawgio


Sahabat…
Bagaimana kabarmu di sana?.
Aku harap engkau baik-baik saja.
Tentu saja begitu sekiraku.
Sudah lama kita tidak berkabar.
Bercengkerama canda mengadu gagasan.
Sungguh aku rindu itu.
Dan kita sama-sama menaruh rindu.

Seperti ombak di pantai.
Dia tidak pernah lelah mengingatkan kita.
Setiap detik dia selalu bergurau dengan pasir.
Tidak ada kata jerah dan lelah dalam setiap perjuangan.
Meski angin telah mengira ombak itu gila.
Awan-awan pun ikut memberi cemooh.

Tapi tidakkah engkau tahu?.
Setiap malam ketika angin berpindah haluan.
Gerombolan awan tertidur dalam lelapnya malam.
Para nelayan pergi mencari kehidupan.
Sesaat saja datang ombak dan gelombang pasang.
Masih saja mereka bersenda gurau dengan pasir yang kedinginan.
Sehingga matahari menyadarkan kita.
Kalau-kalau hidup ini begitu tua dan hina.

Begitu pula dengan bintang-bintang di langit.
Dia tidak akan mau dan mampu mengkhianati bulan.
Meskipun secara sembunyi-sembunyi.
Bintang-gemintang akan tetap temani malam.
Dimana ia hanya ingin melihat kekasihnya selalu bersinar.

Di balik malam selalu ada burung pungguk yang merayu-rayu.
Kita tidak tau apakah ada nasib bagi mereka bersatu.
Pungguk tidak pernah ragu-ragu menunggu.
Neraka tidak rela melihat mereka.
Bulatkan tekad dan tetapkan keyakinan yang satu.
Berbuat bukan untuk di lihat.
Melainkan hanya untuk memperjuangkan cita-cita.

Masih ingatkah engkau sahabat?.
Pada waktu petang itu kita berjanji.
Jika kita pergi berlawan arah.
Kita harus yakin kalau jalan pulang itu hanya satu.
Hidup bukanlah seperti pasir di pantai.
Dalam ketenangan tidak ada yang di pertuan.
Dan kita tidaklah hidup seumpa pungguk dan bulan.
Saling memperebutkan tanpa kepastian.
Kita adalah sepasang bola mata.
Terus menatap kejamnya dunia manusia.

Sahabat, engkau adalah temanku di setiap pojok mata.
Manusia mengira kita itu satu.
Suara kita selalu menyatu ketika berseru.
Kisah kita tidak seperti Engku Kasim yang memutuskan pertalian.
Cerita kita bukanlah romannya Samsulbahri yang bunuh diri.
Perjuangan kita tidaklah seperti Untung Surapati yang bersembunyi.
Kita berteriak dengan suara lantang tentang kebenaran.
Tuhan akan memelihara imbalan untuk suara makhluknya.

Kebenaran harus di sampaikan.
Keadilan harus benar-benar kita perjuangkan.
Perjuangan adalah jalan hidup.
Kematian itu takdir.
Sementara kebakhtian akan tetap abadi.
Hidup kita tidak seperti kura-kura bersembunyi.
Merambat melalui sunyinya bunyi.
Meskipun langit itu akan runtuh.
Dan bumi ini pecah menjadi berkeping-keping.
Kebenaran tidak bisa di putarbalikan.

Kita harus melihat dunia lebih luas lagi kawan.
Ketika dunia ini belum mengenal tulis baca.
Manusia pastinya memakai hukum rimba.
Kita sudah merdeka dalam sebuah negara.
Dunia ini telah berdaulat untuk keadilan.
Manusia bebas dengan haknya yang merdeka.

Tuhan menjadikan manusia bukan sebagai budak.
Setiap manusia itu adalah pemimpin terutama untuk dirinya.
Kita tidak mau mengulang-ngulang kisah cinta Qa’is dan Laila.
Mereka hidup bersama cinta namun buta dengan dunia.
Tidakkah engkau mendengar suara Tan Malaka di alam kubur sana?.
Terdengarkah olehmu gurauan Soe Hok Gie yang memilih mati.?
Kebenaran tidak bisa di nafikan jadi kebohongan.

Begitu nyaring tangisan kartini saat jadi pingitan.
Masih jelas terbayang senyum juang Dewi Sartika mencerdaskan manusia.
Belum lagi kita sebut ibu Rohanna kecil yang menjadi guru.
Lihatlah olehmu pedang Cut Nyak Din dan Sitti Manggopoh membunuh musuh.
Kita akan malu dan kaku.
Dunia ini hanya kita sibukan dengan isi perut dan kedzaliman.
Terlalu kejam kita jadi manusia.
Hewan pun masih berfikir tentang hari esok.
Lalu kita menafikan kodrat kita sebagai pemimpin.
Begitu hina anak-anak manusia yang lupa zatnya.

Sejengkal tanah pun akan menuntut ketidak-adilan itu.
Melalui banjir bandang dan kekeringan.
Kita melihat tuntutan bumi kepada manusia.
Masih mampukah kita berdusta terhadap tuhan?.
Sungguh kita tidak akan mampu membohongi daun yang berguguran.

Metafisika adalah ilmu buatan manusia.
Terkadang kita sering bergarau keyakinan.
Seolah-olah kita mendapat restu dari tuhan.
Peradaban itu hidup tidak berkemaluan.
Manusia hinalah yang tidak bisa berfilsafat.
Dan kita adalah manusia-manusia yang mampu berestetika.
Orang berkata ketika kita berestetika kita malah tidak beretika.
Sungguh dungu mereka-mereka yang mengabdi pada kebodohan.
Dimana ketika mereka di bodohi oleh orang-orang yang bodoh.

Sekarang kita akan berbicara tentang tanggungjawab.
Anak-anak manusia di kemudian hari nanti.
Kita akan melihat pertunjukan yang tidak berilmu.
Harusnya kita tidak pulang terlalu petang.
Sebab ketika kita pulang kandang nasib kita sudah terhalang.
Cukup nasib kita yang menahan rindu.
Suara-suara berikutnya kita harap lebih bermutu.
Kita akan menumpang dalam olengnya muatan penyeberangan.
Dan sungguh kita akan berbakti di jalan pencerdasan.

Kawan…
Seorang sahabat tidak akan pernah menggunting dalam lipatan.
Setiap suara kebenaran telah kita perjuangkan.
Tuhan selalu punya keinginan.
Kita hidup adalah untuk menghidupi yang hidup.
Sejatinya tugas kita selain menghamba adalah bersaudara.
Dalam akal pikir logika ilmu metafisika.
Inmaterial itu ilustrasi.
Kita tidak berbicara tentang keajaiban melainkan pembebasan.
Penjajahan penjarahan dan perbudakan itu harus di hapuskan.

Setiap manusia itu merdeka atas haknya.
Dan kita akan hidup dan tetap hidup.
Bersama mereka-mereka yang haus ilmu dan gemar cita-cita.
Kesucian jiwa itu kita gilir dengan rata.
Pada setiap peradaban anak-anak manusia yang merdeka.
Suatu saat suara itu akan terdengar jelas di atas tanah.
Maka itu artinya aku kamu dan mereka.
Kembalilah hidup merdekanya manusia.



Pasir Sebelah – Padang, 11 November 2018 M.
(Minggu, 20:30 WIB)

- Riri Sawgio -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi "RONA MERDEKA" Oleh Riri Sawgio

RONA MERDEKA Karya : Riri Sawgio Tutup usia. Senyaring-nyaringnya. Sorak anak manusia gegap gempita. Pribumi arab tionghoa...