PESAN-PESAN
UNTUK SAHABAT
Karya
: Riri Sawgio
Sahabat…
Bagaimana kabarmu di sana?.
Aku harap engkau baik-baik
saja.
Tentu saja begitu sekiraku.
Sudah lama kita tidak
berkabar.
Bercengkerama canda mengadu gagasan.
Sungguh aku rindu itu.
Dan kita sama-sama menaruh
rindu.
Seperti ombak di pantai.
Dia tidak pernah lelah
mengingatkan kita.
Setiap detik dia selalu
bergurau dengan pasir.
Tidak ada kata jerah dan
lelah dalam setiap perjuangan.
Meski angin telah mengira
ombak itu gila.
Awan-awan pun ikut memberi cemooh.
Tapi tidakkah engkau tahu?.
Setiap malam ketika angin berpindah
haluan.
Gerombolan awan tertidur
dalam lelapnya malam.
Para nelayan pergi mencari
kehidupan.
Sesaat saja datang ombak dan
gelombang pasang.
Masih saja mereka bersenda
gurau dengan pasir yang kedinginan.
Sehingga matahari
menyadarkan kita.
Kalau-kalau hidup ini begitu
tua dan hina.
Begitu pula dengan
bintang-bintang di langit.
Dia tidak akan mau dan mampu
mengkhianati bulan.
Meskipun secara
sembunyi-sembunyi.
Bintang-gemintang akan tetap
temani malam.
Dimana ia hanya ingin
melihat kekasihnya selalu bersinar.
Di balik malam selalu ada
burung pungguk yang merayu-rayu.
Kita tidak tau apakah ada
nasib bagi mereka bersatu.
Pungguk tidak pernah
ragu-ragu menunggu.
Neraka tidak rela melihat
mereka.
Bulatkan tekad dan tetapkan
keyakinan yang satu.
Berbuat bukan untuk di
lihat.
Melainkan hanya untuk memperjuangkan
cita-cita.
Masih ingatkah engkau
sahabat?.
Pada waktu petang itu kita
berjanji.
Jika kita pergi berlawan
arah.
Kita harus yakin kalau jalan
pulang itu hanya satu.
Hidup bukanlah seperti pasir di pantai.
Dalam ketenangan tidak ada
yang di pertuan.
Dan kita tidaklah hidup
seumpa pungguk dan bulan.
Saling memperebutkan tanpa
kepastian.
Kita adalah sepasang bola
mata.
Terus menatap kejamnya dunia
manusia.
Sahabat, engkau adalah
temanku di setiap pojok mata.
Manusia mengira kita itu
satu.
Suara kita selalu menyatu
ketika berseru.
Kisah kita tidak seperti
Engku Kasim yang memutuskan pertalian.
Cerita kita bukanlah romannya
Samsulbahri yang bunuh diri.
Perjuangan kita tidaklah
seperti Untung Surapati yang bersembunyi.
Kita berteriak dengan suara
lantang tentang kebenaran.
Tuhan akan memelihara
imbalan untuk suara makhluknya.
Kebenaran harus di
sampaikan.
Keadilan harus benar-benar
kita perjuangkan.
Perjuangan adalah jalan
hidup.
Kematian itu takdir.
Sementara kebakhtian akan
tetap abadi.
Hidup kita tidak seperti
kura-kura bersembunyi.
Merambat melalui sunyinya
bunyi.
Meskipun langit itu akan
runtuh.
Dan bumi ini pecah menjadi
berkeping-keping.
Kebenaran tidak bisa di
putarbalikan.
Kita harus melihat dunia
lebih luas lagi kawan.
Ketika dunia ini belum
mengenal tulis baca.
Manusia pastinya memakai hukum
rimba.
Kita sudah merdeka dalam
sebuah negara.
Dunia ini telah berdaulat
untuk keadilan.
Manusia bebas dengan haknya
yang merdeka.
Tuhan menjadikan manusia
bukan sebagai budak.
Setiap manusia itu adalah
pemimpin terutama untuk dirinya.
Kita tidak mau mengulang-ngulang
kisah cinta Qa’is dan Laila.
Mereka hidup bersama cinta
namun buta dengan dunia.
Tidakkah engkau mendengar
suara Tan Malaka di alam kubur sana?.
Terdengarkah olehmu gurauan
Soe Hok Gie yang memilih mati.?
Kebenaran tidak bisa di
nafikan jadi kebohongan.
Begitu nyaring tangisan
kartini saat jadi pingitan.
Masih jelas terbayang senyum
juang Dewi Sartika mencerdaskan manusia.
Belum lagi kita sebut ibu
Rohanna kecil yang menjadi guru.
Lihatlah olehmu pedang Cut
Nyak Din dan Sitti Manggopoh membunuh musuh.
Kita akan malu dan kaku.
Dunia ini hanya kita sibukan
dengan isi perut dan kedzaliman.
Terlalu kejam kita jadi
manusia.
Hewan pun masih berfikir
tentang hari esok.
Lalu kita menafikan kodrat
kita sebagai pemimpin.
Begitu hina anak-anak
manusia yang lupa zatnya.
Sejengkal tanah pun akan
menuntut ketidak-adilan itu.
Melalui banjir bandang dan
kekeringan.
Kita melihat tuntutan bumi
kepada manusia.
Masih mampukah kita berdusta
terhadap tuhan?.
Sungguh kita tidak akan
mampu membohongi daun yang berguguran.
Metafisika adalah ilmu
buatan manusia.
Terkadang kita sering
bergarau keyakinan.
Seolah-olah kita mendapat
restu dari tuhan.
Peradaban itu hidup tidak
berkemaluan.
Manusia hinalah yang tidak
bisa berfilsafat.
Dan kita adalah
manusia-manusia yang mampu berestetika.
Orang berkata ketika kita
berestetika kita malah tidak beretika.
Sungguh dungu mereka-mereka yang
mengabdi pada kebodohan.
Dimana ketika mereka di bodohi
oleh orang-orang yang bodoh.
Sekarang kita akan berbicara
tentang tanggungjawab.
Anak-anak manusia di
kemudian hari nanti.
Kita akan melihat
pertunjukan yang tidak berilmu.
Harusnya kita tidak pulang
terlalu petang.
Sebab ketika kita pulang
kandang nasib kita sudah terhalang.
Cukup nasib kita yang
menahan rindu.
Suara-suara berikutnya kita
harap lebih bermutu.
Kita akan menumpang dalam
olengnya muatan penyeberangan.
Dan sungguh kita akan
berbakti di jalan pencerdasan.
Kawan…
Seorang sahabat tidak akan
pernah menggunting dalam lipatan.
Setiap suara kebenaran telah
kita perjuangkan.
Tuhan selalu punya
keinginan.
Kita hidup adalah untuk
menghidupi yang hidup.
Sejatinya tugas kita selain
menghamba adalah bersaudara.
Dalam akal pikir logika ilmu
metafisika.
Inmaterial itu ilustrasi.
Kita tidak berbicara tentang
keajaiban melainkan pembebasan.
Penjajahan penjarahan dan perbudakan
itu harus di hapuskan.
Setiap manusia itu merdeka
atas haknya.
Dan kita akan hidup dan
tetap hidup.
Bersama mereka-mereka yang
haus ilmu dan gemar cita-cita.
Kesucian jiwa itu kita gilir
dengan rata.
Pada setiap peradaban
anak-anak manusia yang merdeka.
Suatu saat suara itu
akan terdengar jelas di atas tanah.
Maka itu artinya aku kamu
dan mereka.
Kembalilah hidup merdekanya
manusia.
Pasir Sebelah – Padang, 11
November 2018 M.
(Minggu, 20:30 WIB)
- Riri Sawgio -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar