MEMETIK EMPATI PEMUDA DALAM MEMPERJUANGKAN DAN
MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Ditulis : Riri Sawgio
Si
puti si retno nilam.
Datuk
gadang basa bertuah.
Belum
di hadang sudah tersilam.
Setelah
merdeka berkalang tanah.
Adat
raja turun-temurun.
Adat
puti sudut-bersudut.
Jiwa
kapital berduyun-duyun.
Semangat
akal sujud berlutut.
Penjahit
penyulam kertas.
Kertas
terlipat penjahit patah.
Merdeka
tidak berbalas.
Untung
nasib tidak terjajah.
“Kelahiran suatu pikiran, sering menyamai kelahiran
seorang anak, ia di dahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan
kelahirannya” kira-kira seperti itulah sepenggal buah karya atau kata-kata
seorang Tan Malaka yang di persembahkannya untuk anak-anak manusia di bekas
bumi nusantara ini. Kata-kata bapak republik Indonesia ini (nama penghormatan
yang di berikan oleh Mohammad Yamin kepada Tan Malaka dalam tulisannya “TAN
MALAKA BAPAK REPUBLIK INDONESIA”) memberikan sebuah dasar berfikir bagi kita
semua selaku anak muda dan generasi penerus harapan bangsa dalam merenungkan
arti dari terbentuk dan lahirnya bangsa Indonesia.
Sepenggal kata-kata dari seorang Tan Malaka tadi, sebagai
orang yang sangat berjasa dalam lahirnya Indonesia, tentu itu adalah sebuah
kebenaran yang ingin beliau sampaikan kepada dunia, terutama generasi muda yang
haus akan ilmu dan gemar dengan cita-cita. Bagaimana tidak, jauh sebelum
kemerdekaan bangsa Indonesia di proklamirkan oleh para proklamator bangsa ini,
anak-anak muda pada masa dahulunya telah jauh berbuat banyak untuk mimpi
memiliki sebuah negara yang benar-benar merdeka dan berdaulat.
Bung Karno dalam perjuangan revolusinya berkata “Beri aku
seribu orang tua, niscaya aku cabut semeru dari akarnya. Tapi beri aku sepuluh
pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”, artinya di sana harapan besar dari
perubahan dan pembangunan dalam suatu bangsa yang merdeka itu harus ada campur
tangan dari anak-anak muda. Seperti di zaman pra-kemerdekaan, yang peka dan
yang sangat gigih serta perduli dengan kondisi dan perjuangan sosial, politik,
ekonomi pada waktu itu adalah para pemuda. Sehingga bisa di katakan tanpa
pemuda Indonesia ini tidak merdeka, bahkan jika tidak ada pemuda Indonesia
tidak akan pernah ada.
Indonesia ada tidaklah lahir secara seketika saja. Konsep-konsep
Indonesia sudah ada jauh sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan
kemerdekaannya. Semua itu tidak bisa di dustakan, tanpa peran-peran penting dari
para pemuda waktu itu, tidak mengecualikan dan menafikan keberadaan golongan
tua dalam membentuk dan memperjuangkan kemerdekaan serta pergolakan nasional
pada waktu itu. Lahirnya Indonesia melewati rentetan proses yang sangat panjang
dan waktu yang begitu lama.
“Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita, Indonesia
merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran - Pahlawan
yang setia itu berkorban, bukan untuk di kenal namanya, melainkan hanya
semata-mata membela cita-cita.” Begitulah ucapan dan kata-kata Bung Hatta yang
berulang kali beliau ucapkan ketika berjumpa dan bercengkerama dengan para
pemuda penerus perjuangan bangsa di kemudian hari.
Setelah Indonesia merdeka tantangan yang lebih besar akan
datang kembali di setiap detik waktu, untuk menggerogoti setiap
sendi kehidupan anak bangsa. Jika pemuda lemah dalam wawasan dan intelek
keilmuannya, maka Indonesia akan hanyut dan tenggelam ke dasar lautan yang sangat
dalam dari percaturan persaingan global. Dulu anak muda tampil dalam kancah
perjuangan nasional bukan di minta-minta atau di iming-imingi dengan imbalan
apapun, tapi pemuda tampil memperlihatkan batang lehernya adalah ketika rakyat
menjerit dan negara memanggil membutuhkan.
Tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945 masehi, merupakan
sebuah tonggak sejarah dalam peradaban umat manusia di dunia. Selama kurang
lebih berabad-abad lamanya belahan bumi yang terdiri dari beribu pulau dan lautan
samudera yang amat kaya di sepanjang sumbu khatulistiwa asia raya benar-benar
berdaulat dan merdeka. Perjuangan yang jauh-jauh hari di gagas oleh anak-anak
muda di seluruh pelosok Bumi Nusantara akhirnya terwujud. Seperti kita ketahui
bersama, inisiatif dan cikal bakal lahirnya sebuah negara Indonesia telah di
gagas lebih kurang tujuh belas tahun sebelum kemerdekaan Indonesia di
proklamirkan.
Bulan Oktober tanggal 28 tahun 1928 masehi adalah tonggak
sejarah bagi anak bangsa Indonesia. Pada tahun itulah para pemuda di seluruh
nusantara ini bersepakat untuk berikrarkan janji hidup setia sepenanggungan
dalam satu tanah air dan bersatu dalam satu bangsa serta bahasa persatuan
dengan bingkai “INDONESIA”. Artinya secara cita-cita dan pengakuan ke dalam,
Indonesia telah ada sejak tahun 1928.
Kemudian jika kita runut lagi ke belakang, cita-cita
untuk memiliki sebuah negara yang berdaulat tadi ternyata telah di semai dan
terpupuk subur dalam sanubari anak-anak muda sejak tahun-tahun sebelumnya. Yaitu
dengan sebuah gagasan dari seorang pemuda terpelajar tentang konsep negara Indonesia yang benar-benar merdeka,
dalam gagasan idenya “NAAR DE REPUBLIEK INDONESIA/MENUJU REPUBLIK INDONESIA (Tahun
1925)” oleh Tan Malaka.
Dalam sejarah panjang bangsa Indonesia terangkum jelas, ketika
matahari pagi mulai bisa dan berani menyinari dengan semangat optimis kulit kumuh bangsa Indonesia untuk pertama kalinya. Para petani dan
nelayan beserta para pemuda pelajar yang berbaris rapi di halaman sebuah rumah
pribadi yang di huni oleh seorang tokoh pemuda terkenal di kalangan masyarakat
luas dengan suara lantang pidatonya.
Tepatnya di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta
menjadi saksi bisu Kemerdekaan Indonesia, betapa tidak di sanalah ikrar suci bangsa
Indonesia di sampaikan kepada dunia luas tentang kemerdekaan negara Republik
Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia di bacakan oleh Bung Karno
dan di dampingi oleh Bung Hatta pada hari Jum’at saat matahari tengah naik
tanggal 17 Agustus tahun 1945 yang bertempat di halaman depan rumah kediaman Bung
Karno sendiri, dan semua prosesinya berjalan dengan begitu khidmat dan sesuai rencana.
Sudah lebih dari setengah abad lamanya bumi Indonesia ini
merdeka dari cengkeraman tangan penjajah. Banyak pekerjaan rumah dan
tugas-tugas kedaulatan yang telah di laksanakan oleh para pemangku kebijakan di
negeri ini tanpa menafikan kekhilafannya sebagai manusia yang fana. Tantangan
dan ancaman barang tentu sudah siap datang dan menanti untuk menggerogoti
setiap sendi kehidupan anak bangsa.
Tiga bulan setelah bangsa Indonesia memproklamirkan
kemerdekaannnya, ancaman yang sangat serius datang dari bangsa lain yang ingin menjajah bumi Indonesia untuk ke sekian kalinya. Lalu kemudian apakah para pemuda
pada waktu itu hanya berdiam diri atau pergi untuk menyelamatkan harta pribadi?
Tidak! Pemuda waktu itu dengan lantang menolak segala bentuk penjajahan di atas tanah airnya. Semboyan mereka tetap satu “MERDEKA ATAU MATI” kalau tidak
merdeka berarti mati.
Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup jadi
manusia hina yang di jajah. Ucapan dari kata-kata Tan Malaka akhirnya berada di
depan mata anak muda Indonesia “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling
yang menjarah rumahnya” melalui barisan-barisan pelajar dan barisan pemuda yang
selalu siap siaga dan setia kepada negaranya. Ketika di butuhkan para pemuda
siap selalu untuk korbankan tenaga, pikiran bahkan raga dan nyawa sekalipun demi mempertahankan
kemerdekan bangsa Indonesia.
Pada tangggal 10 November 1945, untuk pertama kalinya
terjadi kontak fisik pejuang kemerdekaan yang sebagian besar adalah pemuda dan
pelajar yang telah bersiap diri bahkan mati untuk membela hak dan tanah airnya.
Sekitar jam 10.00 WIB lebih kurang di hari yang sama pecahlah perang antara
pejuang Indonesia dengan komplotan serdadu Penjajah (Inggris dan sekutunya).
Ribuan nyawa manusia melayang untuk mempertahankan haknya, dan begitu pula di
pihak serdadau musuh banyak yang mati.
Kemudian apakah para pejuang kita waktu itu bersurut
langkah untuk berjuang? Tidak! “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai
darah merah, yang dapat menjadikan secarik kain putih menjadi MERAH PUTIH, maka
selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga” Itulah jawaban
seorang pemuda pejuang bangsa yang suaranya berapi-api dan berulangkali di
putar dalam siaran radio pemberontakan nasional saat perang di bulan November
1945 berlangsung dengan sengit.
Peristiwa perjuangan dalam upaya mempertahankan
kemerdekaan Indonesia yang untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah kelam bangsa
Indonesia dalam semangatnya untuk mewujudkan dan mempertahankan kedaulatan
serta kemandirian bangsanya benar-benar di uji. Untuk mengenang jasa para
pahlawan yang ikut berjuang secara moril dan materil baik berperang secara
langsung dengan senjata atau tidak di seluruh pelosok negeri ini, maka pada
tanggal 10 November di peringati sebagai HARI PAHLAWAN.
Hampir mendekati satu abad lamanya negara Indonesia lahir
dan merdeka. Resepsi dan ritual rutin kenegaraan di laksanakan negeri ini
dengan begitu kemewahan dan kemegahan. Entah untuk apa itu semua, yang pasti
anak-anak muda di jaman digital sekarang sangat menggemari itu, bukan
menggemari perjuangan pemuda di zaman dahulu, namun hal-hal lain yang kurang
bermutu. Mulai dari pesta ulang tahun sampai jamuan makan malam mingguan terasa
lebih nyaman pada kalangan anak muda sekarang di banding menulis dan mengasah
pikiran.
Pertanyaan besar bagi kita semua selaku anak muda zaman
now, mau di bawa kemana Indonesia setelah bangsa kita di prediksi akan memiliki
jumlah anak muda yang usia produktifnya begitu tinggi dan banyak? Apakah kita hanya
ingin bermimpi tentang hidup mewah dengan harta yang berlimpah ruah? Tentu kita
harus mampu menjawab pertanyaan itu untuk peradaban dan tanggungjawab kita
kepada dunia.
Terlalu jauh untuk di bahas konsep Indonesia di zaman
sekarang kepada anak-anak muda, hanya segelintir orang saja yang mampu mengenal
jati dirinya apalagi jati diri bangsanya. Bahkan kemirisan itu terjadi di
kalangan anak muda terpelajar sendiri, terutama tentang cakrawala pemikiran pergerakan
untuk membentuk dan memajukan peradaban di Indonesia. Sehingga dengan mudah
sejarah bangsa ini bisa di pelintirkan oleh orang-orang yang tidak
bertanggungjawab.
Begitu lantang suara Bung Karna kepada para pemuda ketika
beliau mulai menyongsong matahari tenggelamnya, apa kata beliau “JAS MERAH! JAS
MERAH!! JAS MERAH!!!” Jas Merah yang di maksud oleh Bung Karno melalui teriakan
pidatonya yang berapi-api kepada para pemuda, bukan jas berwarna merah yang di impor dari China.
Melainkan sebuah jargon dan semangat juang untuk pemuda, agar Jangan pernah sesekali
melupakan sejarah.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa
para pahlawannya”. Jika kita tidak mampu menghargai jasa para pahlawan dalam
bentuk ritual kegiatan, cukup kita mengetahui dan meneladani sikap optimisme
dan pantang menyerah dari para pahlawan kita. Mereka para pahlawan yang
berjuang, bukan meminta untuk di kenang ataupun untuk di sebut-sebut namanya,
harapan mereka hanya satu dan cita-cita mereka tidak lebih dari itu, yaitu “Anak
cucu mereka harus bisa hidup merasakan kebahagiaan dan kemakmuran”.
SELAMAT HARI PAHLAWAN TEMAN!!!
Dilain waktu kita akan bercerita tentang Indonesia dalam
mimpi yang berbeda-beda.
Pasir
Sebelah - Padang, 10 November 2018 M.
(Sabtu,
03:00 WIB)
-
Riri Sawgio -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar