Sabtu, 10 November 2018

MEMETIK EMPATI PEMUDA DALAM KEMERDEKAN (Ditulis : Riri Sawgio)



MEMETIK EMPATI PEMUDA DALAM MEMPERJUANGKAN DAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Ditulis : Riri Sawgio


Si puti si retno nilam.
Datuk gadang basa bertuah.
Belum di hadang sudah tersilam.
Setelah merdeka berkalang tanah.

Adat raja turun-temurun.
Adat puti sudut-bersudut.
Jiwa kapital berduyun-duyun.
Semangat akal sujud berlutut.

Penjahit penyulam kertas.
Kertas terlipat penjahit patah.
Merdeka tidak berbalas.
Untung nasib tidak terjajah.

“Kelahiran suatu pikiran, sering menyamai kelahiran seorang anak, ia di dahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya” kira-kira seperti itulah sepenggal buah karya atau kata-kata seorang Tan Malaka yang di persembahkannya untuk anak-anak manusia di bekas bumi nusantara ini. Kata-kata bapak republik Indonesia ini (nama penghormatan yang di berikan oleh Mohammad Yamin kepada Tan Malaka dalam tulisannya “TAN MALAKA BAPAK REPUBLIK INDONESIA”) memberikan sebuah dasar berfikir bagi kita semua selaku anak muda dan generasi penerus harapan bangsa dalam merenungkan arti dari terbentuk dan lahirnya bangsa Indonesia.

Sepenggal kata-kata dari seorang Tan Malaka tadi, sebagai orang yang sangat berjasa dalam lahirnya Indonesia, tentu itu adalah sebuah kebenaran yang ingin beliau sampaikan kepada dunia, terutama generasi muda yang haus akan ilmu dan gemar dengan cita-cita. Bagaimana tidak, jauh sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia di proklamirkan oleh para proklamator bangsa ini, anak-anak muda pada masa dahulunya telah jauh berbuat banyak untuk mimpi memiliki sebuah negara yang benar-benar merdeka dan berdaulat.

Bung Karno dalam perjuangan revolusinya berkata “Beri aku seribu orang tua, niscaya aku cabut semeru dari akarnya. Tapi beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”, artinya di sana harapan besar dari perubahan dan pembangunan dalam suatu bangsa yang merdeka itu harus ada campur tangan dari anak-anak muda. Seperti di zaman pra-kemerdekaan, yang peka dan yang sangat gigih serta perduli dengan kondisi dan perjuangan sosial, politik, ekonomi pada waktu itu adalah para pemuda. Sehingga bisa di katakan tanpa pemuda Indonesia ini tidak merdeka, bahkan jika tidak ada pemuda Indonesia tidak akan pernah ada.

Indonesia ada tidaklah lahir secara seketika saja. Konsep-konsep Indonesia sudah ada jauh sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Semua itu tidak bisa di dustakan, tanpa peran-peran penting dari para pemuda waktu itu, tidak mengecualikan dan menafikan keberadaan golongan tua dalam membentuk dan memperjuangkan kemerdekaan serta pergolakan nasional pada waktu itu. Lahirnya Indonesia melewati rentetan proses yang sangat panjang dan waktu yang begitu lama.

“Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita, Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran - Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan untuk di kenal namanya, melainkan hanya semata-mata membela cita-cita.” Begitulah ucapan dan kata-kata Bung Hatta yang berulang kali beliau ucapkan ketika berjumpa dan bercengkerama dengan para pemuda penerus perjuangan bangsa di kemudian hari.

Setelah Indonesia merdeka tantangan yang lebih besar akan datang kembali di setiap detik waktu, untuk menggerogoti setiap sendi kehidupan anak bangsa. Jika pemuda lemah dalam wawasan dan intelek keilmuannya, maka Indonesia akan hanyut dan tenggelam ke dasar lautan yang sangat dalam dari percaturan persaingan global. Dulu anak muda tampil dalam kancah perjuangan nasional bukan di minta-minta atau di iming-imingi dengan imbalan apapun, tapi pemuda tampil memperlihatkan batang lehernya adalah ketika rakyat menjerit dan negara memanggil membutuhkan.

Tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945 masehi, merupakan sebuah tonggak sejarah dalam peradaban umat manusia di dunia. Selama kurang lebih berabad-abad lamanya belahan bumi yang terdiri dari beribu pulau dan lautan samudera yang amat kaya di sepanjang sumbu khatulistiwa asia raya benar-benar berdaulat dan merdeka. Perjuangan yang jauh-jauh hari di gagas oleh anak-anak muda di seluruh pelosok Bumi Nusantara akhirnya terwujud. Seperti kita ketahui bersama, inisiatif dan cikal bakal lahirnya sebuah negara Indonesia telah di gagas lebih kurang tujuh belas tahun sebelum kemerdekaan Indonesia di proklamirkan.

Bulan Oktober tanggal 28 tahun 1928 masehi adalah tonggak sejarah bagi anak bangsa Indonesia. Pada tahun itulah para pemuda di seluruh nusantara ini bersepakat untuk berikrarkan janji hidup setia sepenanggungan dalam satu tanah air dan bersatu dalam satu bangsa serta bahasa persatuan dengan bingkai “INDONESIA”. Artinya secara cita-cita dan pengakuan ke dalam, Indonesia telah ada sejak tahun 1928.

Kemudian jika kita runut lagi ke belakang, cita-cita untuk memiliki sebuah negara yang berdaulat tadi ternyata telah di semai dan terpupuk subur dalam sanubari anak-anak muda sejak tahun-tahun sebelumnya. Yaitu dengan sebuah gagasan dari seorang pemuda terpelajar tentang konsep  negara Indonesia yang benar-benar merdeka, dalam gagasan idenya “NAAR DE REPUBLIEK INDONESIA/MENUJU REPUBLIK INDONESIA (Tahun 1925)” oleh Tan Malaka.

Dalam sejarah panjang bangsa Indonesia terangkum jelas, ketika matahari pagi mulai bisa dan berani menyinari dengan semangat optimis kulit kumuh bangsa Indonesia untuk pertama kalinya. Para petani dan nelayan beserta para pemuda pelajar yang berbaris rapi di halaman sebuah rumah pribadi yang di huni oleh seorang tokoh pemuda terkenal di kalangan masyarakat luas dengan suara lantang pidatonya.

Tepatnya di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta menjadi saksi bisu Kemerdekaan Indonesia, betapa tidak di sanalah ikrar suci bangsa Indonesia di sampaikan kepada dunia luas tentang kemerdekaan negara Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia di bacakan oleh Bung Karno dan di dampingi oleh Bung Hatta pada hari Jum’at saat matahari tengah naik tanggal 17 Agustus tahun 1945 yang bertempat di halaman depan rumah kediaman Bung Karno sendiri, dan semua prosesinya berjalan dengan begitu khidmat dan sesuai rencana.

Sudah lebih dari setengah abad lamanya bumi Indonesia ini merdeka dari cengkeraman tangan penjajah. Banyak pekerjaan rumah dan tugas-tugas kedaulatan yang telah di laksanakan oleh para pemangku kebijakan di negeri ini tanpa menafikan kekhilafannya sebagai manusia yang fana. Tantangan dan ancaman barang tentu sudah siap datang dan menanti untuk menggerogoti setiap sendi kehidupan anak bangsa.

Tiga bulan setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannnya, ancaman yang sangat serius datang dari bangsa lain yang ingin menjajah bumi Indonesia untuk ke sekian kalinya. Lalu kemudian apakah para pemuda pada waktu itu hanya berdiam diri atau pergi untuk menyelamatkan harta pribadi? Tidak! Pemuda waktu itu dengan lantang menolak segala bentuk penjajahan di atas tanah airnya. Semboyan mereka tetap satu “MERDEKA ATAU MATI” kalau tidak merdeka berarti mati.

Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup jadi manusia hina yang di jajah. Ucapan dari kata-kata Tan Malaka akhirnya berada di depan mata anak muda Indonesia “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya” melalui barisan-barisan pelajar dan barisan pemuda yang selalu siap siaga dan setia kepada negaranya. Ketika di butuhkan para pemuda siap selalu untuk korbankan tenaga, pikiran bahkan raga dan nyawa sekalipun demi mempertahankan kemerdekan bangsa Indonesia.

Pada tangggal 10 November 1945, untuk pertama kalinya terjadi kontak fisik pejuang kemerdekaan yang sebagian besar adalah pemuda dan pelajar yang telah bersiap diri bahkan mati untuk membela hak dan tanah airnya. Sekitar jam 10.00 WIB lebih kurang di hari yang sama pecahlah perang antara pejuang Indonesia dengan komplotan serdadu Penjajah (Inggris dan sekutunya). Ribuan nyawa manusia melayang untuk mempertahankan haknya, dan begitu pula di pihak serdadau musuh banyak yang mati.

Kemudian apakah para pejuang kita waktu itu bersurut langkah untuk berjuang? Tidak! “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat menjadikan secarik kain putih menjadi MERAH PUTIH, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga” Itulah jawaban seorang pemuda pejuang bangsa yang suaranya berapi-api dan berulangkali di putar dalam siaran radio pemberontakan nasional saat perang di bulan November 1945 berlangsung dengan sengit.

Peristiwa perjuangan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah kelam bangsa Indonesia dalam semangatnya untuk mewujudkan dan mempertahankan kedaulatan serta kemandirian bangsanya benar-benar di uji. Untuk mengenang jasa para pahlawan yang ikut berjuang secara moril dan materil baik berperang secara langsung dengan senjata atau tidak di seluruh pelosok negeri ini, maka pada tanggal 10 November di peringati sebagai HARI PAHLAWAN.

Hampir mendekati satu abad lamanya negara Indonesia lahir dan merdeka. Resepsi dan ritual rutin kenegaraan di laksanakan negeri ini dengan begitu kemewahan dan kemegahan. Entah untuk apa itu semua, yang pasti anak-anak muda di jaman digital sekarang sangat menggemari itu, bukan menggemari perjuangan pemuda di zaman dahulu, namun hal-hal lain yang kurang bermutu. Mulai dari pesta ulang tahun sampai jamuan makan malam mingguan terasa lebih nyaman pada kalangan anak muda sekarang di banding menulis dan mengasah pikiran.

Pertanyaan besar bagi kita semua selaku anak muda zaman now, mau di bawa kemana Indonesia setelah bangsa kita di prediksi akan memiliki jumlah anak muda yang usia produktifnya begitu tinggi dan banyak? Apakah kita hanya ingin bermimpi tentang hidup mewah dengan harta yang berlimpah ruah? Tentu kita harus mampu menjawab pertanyaan itu untuk peradaban dan tanggungjawab kita kepada dunia.

Terlalu jauh untuk di bahas konsep Indonesia di zaman sekarang kepada anak-anak muda, hanya segelintir orang saja yang mampu mengenal jati dirinya apalagi jati diri bangsanya. Bahkan kemirisan itu terjadi di kalangan anak muda terpelajar sendiri, terutama tentang cakrawala pemikiran pergerakan untuk membentuk dan memajukan peradaban di Indonesia. Sehingga dengan mudah sejarah bangsa ini bisa di pelintirkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Begitu lantang suara Bung Karna kepada para pemuda ketika beliau mulai menyongsong matahari tenggelamnya, apa kata beliau “JAS MERAH! JAS MERAH!! JAS MERAH!!!” Jas Merah yang di maksud oleh Bung Karno melalui teriakan pidatonya yang berapi-api kepada para pemuda, bukan jas berwarna merah yang di impor dari China. Melainkan sebuah jargon dan semangat juang untuk pemuda, agar Jangan pernah sesekali melupakan sejarah.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Jika kita tidak mampu menghargai jasa para pahlawan dalam bentuk ritual kegiatan, cukup kita mengetahui dan meneladani sikap optimisme dan pantang menyerah dari para pahlawan kita. Mereka para pahlawan yang berjuang, bukan meminta untuk di kenang ataupun untuk di sebut-sebut namanya, harapan mereka hanya satu dan cita-cita mereka tidak lebih dari itu, yaitu “Anak cucu mereka harus bisa hidup merasakan kebahagiaan dan kemakmuran”.

SELAMAT HARI PAHLAWAN TEMAN!!!
Dilain waktu kita akan bercerita tentang Indonesia dalam mimpi yang berbeda-beda.



Pasir Sebelah - Padang, 10 November 2018 M.
(Sabtu, 03:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi "RONA MERDEKA" Oleh Riri Sawgio

RONA MERDEKA Karya : Riri Sawgio Tutup usia. Senyaring-nyaringnya. Sorak anak manusia gegap gempita. Pribumi arab tionghoa...