Sabtu, 10 November 2018

Puisi "SAJAK TENTANG SEORANG PEREMPUAN" Oleh Riri Sawgio



TERBIT DAN TENGGELAM
(Sajak Tentang Seorang Perempuan)
Karya : Riri Sawgio


Sejak bermula bertegur sapa.
Bertegur salam kita lanjutkan.
Sungguh manusia makhluk yang fana.
Janji hati bukan suratan.

Bercerita adik waktu pagi.
Kita bertemu di waktu petang.
Rasa itu datang dan pergi.
Mengetuk hati seorang lajang.

Petang itu lebat hujannya.
Kita tertawa bersama-sama.
Apalah pinta apakan daya.
Nasib sudah memisakan kita.

Pulau sabang ramai orangnya.
Pulau nias amatlah luas.
Manusia di tagih pada janjinya.
Budi baik patut di balas.

Adat melayu begitu lembut.
Lembut lakunya si gadis minang.
Pinta dan do’a boleh di rajut.
Sebutlah mimpi dalam sembahyang.

Danau toba berdasar gunung.
Ada pulau di tengah-tengah.
Adat itu sifat mengungkung.
Dosa-dosa patut di cegah.

Pasaman terbagi dua.
Simpang empat lubuk sikaping.
Hati muda suka mendua.
Bisa hancur berkeping-keping.

Bangkinang kotanya bersih.
Padangpanjang kotanya indah.
Jangan hidup seperti bilih.
Berbiak tidak bertambah.

Sutan Palembang jatuh hati.
Mengukir cerita siguntur muda.
Tidak mudah menaruh hati.
Butuh waktu dan tenaga.

Padang kotanya panas.
Painan berangin kencang.
Manusia itu bersikap ganas.
Menahan nafsu mampu berperang.

Airhaji berpasar banyak.
Kambang negerinya luas.
Sedang tidur mata tersentak.
Teringat adik bersikap culas.

Tapan berhutan rimba.
Bengkulu berpantai panjang.
Sakit hati menyesak dada.
Mata terpejam adik terbayang.

Bekauheni pelabuhan kapal.
Palembang menyimpan sejarah.
Jika janji berasa janggal.
Mati kita berkalang tanah.

Indah cahayanya mentari pagi.
Masih berbekas saat tenggelam.
Duhai adik maafkan janji.
Kasih kita di pisahkan malam.




SAJAK TENTANG SEORANG PEREMPUAN


Perempuan…
Lakumu begitu lugu.
Dengar malu mata sayu.
Rindu engkau simpan begitu rapat.
Hati pun tidak sanggup untuk mendekat.

Kekasih…
Kejam rajanya cinta.
Kita di paksa memelihara rasa.
Padahal kita masih rindu belai gemulai.
Tidak dengan lilitan rantai-rantai.
Kita berdusta satu sama lain.
Rajutan mimpi itu kita jalin.

Dik…
Adakah rasa itu bersisa?.
Biar manusia tutup mata.
Kita tidak hanya berbicara masa depan.
Peradaban manusia harus di utamakan.
Tanggungjawab bukan persoalan cinta.
Lebih dari hajat hidup anak-anak manusia.
Hari petang kita sudah membayang.
Mimpi itu harus di bungkus rapi.

Kepiawaianmu tidak bisa di lukiskan.
Seperti perempuan-perempuan akhir zaman.
Fiksi tidak lagi mampu bernarasi.
Bercerita ria dalam mimpi halusinasi.
Daun ilalang ragu bersanding denganmu.
Sepasang mata bercakap begitu dungu.

Rasa itu memenjarakan kita.
Saling serang di bilik tetangga.
Kata-kata mana lagi yang kita dustai?.
Tidak satupun dari kita berniat melukai.
Setiap manusia itu merdeka dengan rasanya.
Hak azazi tetap kita bela dengan hukum agama.

Kita tidak mau berlama-lama dalam dosa.
Sakit bukan karena darah tapi oleh mata.
Pulihkan atau akan menambah korban.
Meski jalan itu kiri dan kanan.
Di balik bukit itu jurang.
Kita tidak akan menang.

Kekalahan kita adalah berjuang.
Kamu tidak akan mampu menahan pedang.
Dia bisa mengoyak ubun-ubun dari belakang.
Mari kita sama-sama pulang sebelum berkalang.
Kita hanya hidup di saat matahari naik.
Mati kita itu setiap detik.
Perjuangan cinta kita itu tidak berdelik.



Pasir Sebelah - Padang, 11 November 2018 M.
(Minggu, 04:00 WIB)

- Riri Sawgio -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puisi "RONA MERDEKA" Oleh Riri Sawgio

RONA MERDEKA Karya : Riri Sawgio Tutup usia. Senyaring-nyaringnya. Sorak anak manusia gegap gempita. Pribumi arab tionghoa...